Jenuh yang Mengkudeta

13 Sep 2013

Seminggu ini aku lalui hari-hari seperti biasa. Jenuh mengkudeta tak dapat terelakkan (bahasa Vickiisme). Barangkali tak adanya me time membuat aku agak sedikit uring-uringan. Atau juga keadaan yang berulang membuat bosan makin berlipat. Mungkin juga, target pekerjaan yang harus kuselesaikan kurang tepat pada harapan dan keinginan. Bisa jadi jenuh datang karena kejenuhan harus ada, menjadi sebuah penyeimbang kehidupan.

Jenuh adalah hal wajar, melakukan hal-hal di kala me time dengan tujuan mengusir kejenuhan nyatanya tak berdampak. Padahal biasanya kegiatan-kegiatan itu adalah sesuatu yang sangat disukai dan hasilnya semangat kembali tumbuh dan utuh. Mungkin sih, kegiatanku saat me time itu-itu saja, padahal kan sederet kegiatan bisa dicoba.

Aku merenung, mencari sebab kejenuhan yang muncul. Untungnya jenuh itu datang saat akan akhir pekan, jadi tak berdampak besar pada pekerjaan. Untungnya juga semua pekerjaan telah diselesaikan tepat waktu tanpa harus membawanya ke rumah. Aku kembali mencari sebab, jika berhubungan dengan pekerjaan mungkin tidak. Jika berhubungan dengan masalah keluarga, rasanya juga tidak. Aku berpikir

Ada sesuatu yang malas aku lakukan beberapa hari ini, bertemu dengan orang-orang yang itu-itu saja. Maksudku, bertemu dengan orang yang secara rutinitas tak memberikan ketenangan dan dampak baik. Bingung menjelaskan secara rinci, tapi begini. Jika setiap hari kita bertemu dengan orang yang katakanlah cerdas tapi obrolannya hanya seputar itu-itu saja rasanya membosankan. Belum lagi bertemu dengan orang yang lain di mulut lain di hati, apa yang ia katakan di depan kita ternyata berbeda jika di belakang, itu jelas menjengkelkan dan menjenuhkan. Atau bertemu dengan orang yang mungkin derajat kekayaannya lebih tinggi, lalu dia mengesankan diri orang yang berkelas rasanya wajar tapi jadi membosankan sih. Atau bertemu dengan orang yang keseringan memberikan kritik dan saran plus jalan keluar yang harus kita lakukan, bosan juga.

Akhirnya, aku merasa ada ide untuk mencoba menghindari orang-orang ini karena dampaknya jelas-jelas tidak baik (untuk saat ini). Tapi karena pekerjaan, orang-orang seperti ini susah untuk dihindari. Lalu bagaimana caranya untuk menghilangkan kejenuhan akibat hal ini?

Di akhir pekan nanti, saya akan melakukan hal-hal di yang tak itu-itu saja. Barangkali tidur lebih awal dan bangun lebih pagi bisa menjadi alternatif. Atau, bersemedi di dalam gua bisa jadi uji coba (kalau yang ini ngaco). Atau melakukan kebiasaan yang sudah jarang dilakukan karena kesibukan. Contohnya ke toko buku, sudah beberapa minggu tidak berkunjung. Nonton di bioskop, atau cari karpet baru untuk rumah. Nah ini bisa dicoba.

Tapi, kalau di kejenuhan itu muncul karena sebab yang sama, bagaimana? Ah, nanti kutulis lagi :)


TAGS 30 Hari Nonstop Ngeblog


-

Author

Follow Me