Vicky dan Bahasa Intelek

10 Sep 2013

Dulu, saya punya saudara di kampung. Saban ngobrol sama dia, dia selalu menyelipkan kosakata-kosakata ajaib yang berkesan intelektual. Saya bukannya respect jika mendengar dia bicara, namun apabila keluar kosakata ajaib itu saya tergelak menahan tawa. Masalahnya apa yang dia katakan dengan pengetahuan yang dimiliki berbanding terbalik. Alih-alih ingin terlihat cerdas ini malah terlihat bodoh, sangat bodoh malah.

Lain lagi dengan dosen saya. Beliau cerdas karena lulusan salah satu perguruan tinggi di luar negeri. Tidak hanya S1, S2 dan S3 pun ditamatkan di universitas di luar Indonesia. Sebagai mahasiswa yang diajarkan, kita jelas bangga mendapatkan dosen yang berkualitas. Namun saat beliau mengajar ternyata sebagian besar dari kami tidak terlalu memahami apa yang beliau ajarkan. Bahkan beliau kadang kesulitan dalam menterjemahkan beberapa kosakata atau tata bahasa beliau masih berantakan. Jadi, kami harus dua kali memahami dengan ekstra, pertama memahami tata bahasa beliau kedua jelas memahami mata kuliah yang diajarkan.

Cerita lain bergulir, saat bekunjung ke salah satu prasasti di Bogor bersama murid di sekolah. Saya menemui sang juru kunci. Saya dapat memahami apa yang ia katakan tentang prasasti tersebut, namun di sela-sela perbincangan, sang juru kunci selalu menyelipkan betapa hebatnya ia. Betapa canggihnya dan berintelektualnya ia. Aku tertawa karena di sela-sela ia menjelaskan beberapa prasasti ia selalu membawa buku besar dan curi-curi pandang. Entah itu memastikan materi atau karena memang tidak menguasai materi.

Di suatu acara, saya juga pernah mendengar narasumber yang asyik diajak bicara. Gaya bahasanya yang luwes dan mudah dimengerti membuat kita betah berlama-lama. Selain itu, sang narasumber tak pernah menyelipkan kosakata-kosakata yang membuat dahi berkerut. Jika pun ada, kosakata yang diselipkan sesuai dengan perbincangan dan tak neko-neko. Jadi gampang mengartikannya. Padahal setelah dicek, narasumber tersebut lulusan dari unversitas terkemuka di luar negeri.

Saat kasus seorang penyanyi dangdut yang ditipu tunangannya merebak. Saya tak ambil pusing, toh itu bukan urusan saya. Namun saat gembor-gembor trend bahasa tunangannya di dunia maya, rasa penasaran saya muncul. Saat menemukan youtubenya, saya menonton sambil tertawa terbahak-bahak sambil juga mengelang-gelengkan kepala. Sang mantan tuangan berusaha untuk kelihatan intelek tapi malah terlihat bodoh.

Sejak itulah saya teringat dengan orang-orang yang berbicara yang saya tuliskan beberapa di atas. Akhirnya saya berkesimpulan, berbicara dengan bahasa yang mudah dipahami (seintelektual apapun kita), pasti apa yang disampaikan dapat diterima dengan baik.


TAGS 30 Hari Nonstop Ngeblog


-

Author

Follow Me