Hari Aksara Internasional: Tingkatkan Budaya Literasi Yuuk!

8 Sep 2013

Hari ini 8 Sepetember adalah hari aksara international. Sebagai guru, sudah pastinya saya mengajarkan aksara kepada anak-anak. Apalagi saat menjadi guru kelas satu SD, memperkenalkan aksara kepada anak-anak dilakukan dengan serius tanpa menanggalkan pembelajaran yang menyenangkan.

Salah satu yang difokuskan dalam hari Aksara selain pemberantasan buta huruf adalah budaya literasi. Untuk Indonesia, dari kajian yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) yang bertajuk What Students Know and Can Do: Student Performance in Reading, Mathematics, and Science, Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2009, Indonesia menempati posisi 57 dari 65 negara yang dikaji mengenai budaya literasi di kalangan siswa/anak (sumber: suaramerdeka (dot) com). Wuih.

Sebagai guru bahasa Indonesia, galau rasanya melihat budaya literasi kita yang menyedihkan. Banyak hal yang saya coba lakukan agar budaya literasi kita muncul, salah satunya berdiskusi karya sastra atau buku-buku tertentu. Selain berdiskusi anak-anak juga diminta untuk membaca satu buku tertentu dan meringkasnya.

Pembelajaran menulis juga selalu digalakkan, menulis cerita, jurnal maupun puisi menjadi salah satu kegiatan yang harus dilakukan. Tapi menulis tanpa sesuatu yang menyenangkan anak-anak dapat membuat jenuh pembelajaran bahasa. Jadi, saya biasanya membawa anak-anak ke lapangan, ke kebun, atau ke taman sekolah untuk menulis apa yang dilihat dan dirasakan. Selain itu, pembelajaran tidak hanya dilakukan dengan hanya menulis dan memaparkan materi secara satu arah di dalam kelas. Metode berkebun, memasak (cooking), permainan seru, syuting, bernyanyi dan wawancara kerap dilakukan agar pembelajaran bahasa Indonesia menjadi sesuatu yang seru dan mengasyikkan.

Agar budaya literasi makin merasuk dalam diri anak-anak, saya selalu mendatangkan orang-orang yang bekerja di seputaran literasi seperti penulis buku, blogger dan pendongeng. Mereka yang didatangkan biasanya akan bercerita proses kreatif dan suka dukanya menjalani profesi.

Sebagai guru, saya juga harus menjadi contoh untuk anak-anak. Kebetulan, beberapa buku (keroyokan) saya telah terbit bersama blogger atau yang berupa kumpulan puisi. Saya ceritakan kepada anak-anak sebagai bentuk inspirasi dan motivasi. Setidaknya mereka paham, saya yang mengajarkan ilmu telah mempraktikkan ilmu tersebut.

Kegiatan lain yang dilakukan sebagai wadah kreasi mereka. Mading atau majalah dinding telah disiapkan sebagai tempat mereka berekspresi. Selain itu, mengadakan lomba penulisan cerpen maupun puisi menjadi salah satu cara ampuh agar keinginan mereka menulis dan membaca timbul, tentunya dengan hadiah-hadaih yang menarik. Ada lagi agar anak-anak makin semangat, project akhir adalah membuat buku bersama. Ini dilakukan agar anak-anak mengerti salah satu tujuan ia menulis.

Masih miris jika budaya literasi kita belum tinggi apalagi di kalangan siswa. Nah, sebagai pendidik sudah sepantasnya kita menaikkan budaya literasi itu dengan pembelajaran yang tak membosankan. Namun bukan hanya tugas guru tapi tugas orang tua dan semua pihak yang terkait. Semoga budaya literasi kita makin membaik ya


TAGS


-

Author

Follow Me