Karena Bahagia Itu Sederhana

5 Sep 2013

Pernah melihat seseorang yang memiliki profesi sederhana namun sangat menikmati apa yang ia kerjakan? Pernah juga melihat seseorang yang terlihat tertekan saat melakukan suatu pekerjaan? Pernah melihat juga sebuah keluarga sederhana namun terpancar bahagia pada masing-masing anggotanya? Atau pernah melihat sebuah keluarga mewah namun sedikit kebahagiaan yang tersirat?

Hal-hal tersebut selalu hadir dalam kehidupan kita. Masing-masing memiliki pilihan dalam memutuskan untuk bahagia atau tidak. Kadang, pekerjaan dengan tekanan berat kompensasinya bayaran yang tinggi (meski tak selamanya demikian), ada juga pekerjaan yang ringan namun kompensasinya bayaran yang tak terlalu tinggi (walau tak selamanya begitu). Saat menjalani pun kehadiran hati sangat menentukan titik kebahagiaan, titik kenikmatan.

Pernah saya bertemu dengan teman seangkatan yang bekerja di perusahaan asuransi terkemuka. Gajinya juga begitu memukau. Belum bonus dan tunjangan yang tak kalah memukau.

Beberapa bulan setelah itu, saya kembali bertemu dengannya. Saya terpana tatkala ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari perusahaan asuransi tersebut. Saya menelaah ucapannya.

Aku tidak bahagia, Fan, kerja di situ, ujarnya. Tekanan yang terlalu berat dan target yang tak kalah beratnya. Hampir seluruh waktuku terpacu hanya untuk perusahaan, lanjutnya.

Lah, kan gajinya lumayan. Kapan lagi bisa punya gaji sebesar itu? balasku.

Dia mengangguk, Iya, gajinya lumayan. Tapi ternyata gaji bukan penentu utama. Kalau akhirnya hidupku terporsir habis-habisan untuk apa? Toh, gaji besar bukan penentu kita untuk bahagia. Masih mendingan kamu, Fan, jadi guru. Kerjanya bertemu anak-anak. Lucu dan menggemaskan. Pasti kamu bahagia. jelasnya. Aku tersenyum.

Saat kembali ke rumah, aku termenung. Kebahagiaan memang berbeda-beda, tergantung dari sudut mana kita melihat. Meski pada sebagian orang menilai kebahagiaan itu diukur dari banyaknya harta, tingginya tahta. Namun sekali lagi, bahagia itu memiliki ukuran yang tak sama.

Karena sudut pandang kebahagiaan itu berbeda, banyak yang menyadari jika bahagia itu sederhana. Menularkan banyak manfaat di sekitar dapat menimbulkan bahagia, dapat makan dengan nasi liwet, ikan asing, lalap pete, bagi sebagian orang itu adalah hal yang membahagiakan.

Namun, pola hidup yang makin konsumtif, persaingan hidup yang makin kompetitif membuat makna bahagia itu makin pudar dan rumit. Kebahagiaan selalu diidentikkan dengan harta dan uang yang berbukit. Jika hanya memiliki sedikit dianggap sulit dan jauh dari kata bahagia. Namun kembali lagi, kebahagiaan itu adalah pilihan masing-masing individu.

Karena bahagia itu sederhana, bagi saya memiliki sesuatu yang berguna untuk kehidupan sekitar itulah sejatinya bahagia. Lalu, bagaimana bahagia versi anda?


TAGS 30 Hari Nonstop Ngeblog


-

Author

Follow Me