Hujan dan Ojeg Payung

4 Sep 2013

Sudah dua minggu lamanya, Bogor yang dikenal khalayak sebagai kota hujan, tak dapat berkutik pada kekuatan alam yang memberi sinyal bahwa musim kemarau telah dimulai.

Tapi, sekalipun musim kemarau, seminggu sekali Bogor pasti hujan, ucap salah satu warga.

Bogor sudah nggak seperti dulu, panas dan jarang hujan, ujar warga yang lain.

Aku yang sudah sebelas tahun tinggal di Bogor merasakan hal demikian, namun aku mengerti alam tak akan ingkar janji Alam bicara sesuai dengan perlakukan manusia terhadapnya. Begitu pula yang terjadi di Bogor.

Sudah dua minggu dan tepat kemarin sore, hitam pekat di langit memayungi Kota Bogor. Jika beberapa kali mendung namun tak jadi hujan. Kali ini, aku yakin hujan akan datang menyapa tanah yang mulai berdebu, menyapa pepohonan yang sudah merangas dan layu. Hujan akan datang

Angkot menuju terminal yang kutumpangi masih ngetem di stasiun. Biasanya, angkot akan mulai jalan jika penumpang telah penuh. Jika bisanya aku uring-uringan karena menunggu lama, kali ini aku tak merasakan itu. Warna-warni payung besar terlihat mempesona berada di sekitar stasiun. Lama sudah tak melihat payung besar warna-warni itu.

Aku berada di angkot kala hujan akhirnya benar-benar menemuiku. . Kulihat anak-anak penjaja ojeg payung besar warna-warni berhamburan mendekati penumpang kereta yang baru saja turun. Tawa riang terpampang kala jasa mereka dipakai penumpang. Senyum mengembang kala beberapa lembar uang di genggaman. Tak terpikirkan oleh mereka dingin yang menusuk tubuh. Hujan adalah berkah. Hujan adalah kaki tangan Tuhan untuk rezeki mereka.

Rupanya hujan tak terlalu lama, barangkali hanya sekitar satu jam saja. Akan tetapi, doa terus mengalir dari mulut-mulut para penjaja ojeg payung. Doa kuat agar hujan turun dengan taat, dan berharap bertahan hingga malam makin larut. Hujan kembali, hanya beberapa saat. Tapi bagi penjaja ojeg payung hal itu sungguhlah berarti.

Angkot yang kutumpangi mulai penuh, perjalanan kembali dilanjutkan. Di sekitar Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor hujan masih menderas. Memasuki kawasan Padjajaran hujan hanya meninggalkan aspal basah.

Perjalananku berakhir tepat di Pangrango Plaza. Kulihat pepohonan yang begitu segar dan menggairahkan. Air yang masih menemani kerinduan dedaunan. Genangan air di jalan-jalan berlubang. Dan debu yang telah terusir perlahan menyisakan udara segar khas setelah hujan.

Tak hanya penjaja ojeg payung, aku juga merindukan hujan. Kebun di rumahku pasti sedang berpesta pora merayakan hujan yang telah kembali. Bukan hanya mereka semata yang berharap hujan akan kembali, aku pun demikian. Dua minggu tak hujan rasanya ada hal yang hilang. Hujan adalah berkah bagiku, bagi mereka dan alam.


TAGS 30 Hari Nonstop Ngeblog


-

Author

Follow Me