Menjadi Guru Itu Berkah

30 Aug 2013

Ada yang menarik dalam peristiwa lebaran yang lalu di kampung halaman. Biasanya, aku jarang melakukan reunian. Meski bukan reuni besar dan formal, reuni kecil akhirnya terjadi tanpa kesengajaan. Meski, beberapa orang saja yang ada, namun sudah membuatku membuka mata.

Obrolan kami mengulas banyak hal. Mengenang masa lalu saat kami masih berseragam putih abu-abu. Mengecek siapa saja yang sudah menikah. Saling ledek untuk kami yang masih setia menjomblo. Lalu obrolan kami bermuara pada pekerjaan masing-masing, suka dukanya dan membahas gaji yang kami terima setiap bulannya.

Menjadi guru bagiku adalah pilihan hati. Jujur saja, saat pertama kali memutuskan pekerjaan ini, ada banyak pertimbangan yang harus kupikirkan. Pertimbangan utama adalah gaji guru, di sekolah terpandang sekalipun tak dapat menandingi gaji teman-teman seangkatanku yang bekerja di perusahaan multinasional atau bank-bank terkemuka.

Temanku di kampung rata-rata bekerja di perkebunan, meskipun bukan manajer utama atau mandor utama, dari pengakuan mereka, upah atau gaji yang diterima menurutku cukup besar. Bahkan hampir sepadan denganku yang sudah bertahun-tahun menjadi guru dan berijasah S1 salah satu universitas terkemuka di Indonesia.

Dari pengakuan mereka, gaji yang diterima nyatanya tak mencukupi kehidupan mereka. Rata-rata pengeluaran mereka melebihi pemasukan yang diterima. Aku terheran-heran, bagaimana bisa, karena dengan gaji yang tak jauh berbeda aku bisa melakukan banyak hal.

Banyak hal yang kumaksud misalnya aku sudah dapat mencicil dan merenovasi rumah, membeli perabotan penting, memiliki benda elektronik yang cukup mumpuni untuk kebutuhanku. Bahkan dengan gajiku yang tak kalah jauh itu, aku masih dapat bersenang-senang di setiap pekan. Dengan gajiku itu, aku masih bisa menabung hingga sepertiga total gaji.

Sesaat setelah obrolan kami yang panjang, aku merenung. Kadang aku terlalu picik ketika melihat beberapa teman bergaji melebihiku, padahal kami setara secara ijasah dan kemampuan. Aku yang kadang bekerja lebih giat masih kalah pemasukannya dari mereka yang bekerja di perusahaan multinasional. Namun itu hanya pikiran picik.

Aku merenung dalam. Barangkali ini yang dinamakan berkah. Memilih profesi guru adalah pilihan hati dan aku dituntut untuk ikhlas dengan segala konsekunsi yang ada. Jujur, menjadi guru itu berat karena ini bukan profesi sembarangan, generasi penerus ada di tangan kami.

Aku merenung. Sesuatu usaha yang kami lakukan melebihi apa yang kami terima, kadang tak masuk diakal akan dibalas Allah dengan cara yang manis. Jika dihitung secara matematis, gajiku tak akan cukup untuk satu bulan, bahkan jika berhemat sekalipun.

Aku kembali merenung, masa mudaku langsung aku larikan pada profesi ini. Aku yakin ini bukan pilihan yang salah karena di kemudian hari hitung-hitungan Allah akan melebihi gajiku, akan melebihi segala tembok, akan melebihi keterbatasan. Aku meyakini itu!


TAGS 30 Hari Nonstop Ngeblog


-

Author

Follow Me