Antara Aku dan IPDN

25 Aug 2013

Saat itu aku akan lulus dari Sekolah Menengah Atas kebetulan aku bersekolah di sekolah kejuruan pertanian. Saat-saat kelulusan tersebut aku diberikan pilihan oleh orangtuaku untuk melanjutkan study ke STPDN yang sekarang diganti IPDN. Alasannya sangatlah sederhana orangtuaku melihat ada jaminan masa depan jika aku melanjutkan study ke sana. Terbukti beberapa saudara ayah yang berhasil memiliki jabatan di daerahku.

Mendengar beberapa cerita saudara ayah yang kebetulan anaknya masih study di sana. Kehidupan di IPDN begitu disiplin, makan tak boleh lambat, mandi tak boleh lama, dan harus siap ditempa secara fisik. Berbeda sekali denganku makan yang tak cepat, mandi yang juga tak terlalu cepat. Maka ayah mulai melatihku. Aku disuruh berlari beberapa kilometer sehabis sholat subuh. Aku ditegur jika ketahuan mengunyah makananku terlalu lama. Itu semua dilakukan agar ketika aku masuk aku sudah tidak terlalu kaget melihat kondisi di IPDN.

Aku terus berlatih. Tak lupa pula ayah mencari informasi pendaftaran. Ketika ayah mendapatkan beberapa informasi cara masuk IPDN, ada beberapa test yang akan dilakukan: psikotest, tes kesehatan, dan tes akademis.

Namun saat aku sudah lulus dan pendaftaran IPDN telah dibuka. Ayah tiba-tiba menghentikan niatnya untuk melanjutkan studyku ke IPDN. Aku heran sekaligus senang karena aku cukup ngeri mendengar cerita saudara ayahku. Anaknya dipukuli, ditendang, dan nyaris kabur dari IPDN. Aku bernafas lega meski beberapa minggu harus capek berlatih fisik untuk mempersiapkan diri.

Akhirnya aku melanjutkan study di IPB program diploma. Meski awalnya aku harus berusaha keras untuk masuk perguruan tinggi negeri. Aku mengikuti SPMB namun gagal, lalu aku mencoba masuk ke Politeknik Unila, namun telanjur dipanggil pihak IPB untuk melakukan regristasi.

Saat-saat kuliah di IPB adalah saat-saat yang begitu indah. Bayangkan dalam satu kelas aku nyaris bertemu dengan teman-teman di 33 propinsi. Ada yang dari NAD, Sumatera Utara, Bangka Belitung, seluruh Jawa, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua. Mereka semua termasuk aku adalah anak-anak daerah yang merantau mencari ilmu di IPB.

Hingga tahun 2003 saat aku di tingkat dua. Di surat kabar, di media elektronik aku mendengar sekaligus melihat kedzoliman yang teramat nista dilakukan oleh generasi bangsa ini. Di kampus IPDN seorang mahasiswa (yang ternyata sempat kuliah di IPB) Wahyu Hidayat harus mengakhiri usianya di kampus neraka itu. Dia dipukul, disiksa oleh seniornya. Hingga beritanya makin mencuat nama STPDN diganti menjadi IPDN dan berharap tidak ada kekerasan yang terjadi lagi.

Hingga tahun 2007, saat aku sudah lulus dari program D3 lalu melanjutkan kuliah di program Ekstensi sarjana sambil bekerja. Kembali aku mendengar berita nista itu, Cliff Muntu harus rela mengantarkan nyawanya di kampus neraka itu. Dadaku sesak, tanganku mengepal. Mengapa masih terjadi kekerasan di IPDN? Mengapa kedisplinan harus dibentuk dengan tempaan fisik?

Sambil membaca sebuah surat kabar berita IPDN, aku teringat kembali saat aku menjelang lulus. Saat ayah membatalkan niatnya untuk melanjutkan studyku di IPDN. Ayah tak mau aku mati konyol di IPDN. Ayah tak mau aku menjadi santapan-santapan manusia berhati iblis. Ayah tak mau aku menjadi gila dengan perlakuan orang-orang berhati nurjana. Ayah tak mau itu terjadi padaku.

Kemudian aku tersenyum mengingat indahnya perlakuan-perlakuan seniorku di IPB. OSPEK yang dilakukan tidak ada yang berbau kekerasan bahkan penuh dengan kekeluargaan. Jikapun ada lengkingan-lengkingan beroktaf akan reda dan berbaur riang kembali dengan kami. Di IPBlah aku menuai cita-citaku. Di IPBlah aku menemukan apa bakatku sebenarnya. Di IPBlah aku mengenal dunia anak-anak yang menjadi pekerjaanku sekarang, di kampus itulah aku terus mengasah tulisanku. Tiada perlu kekerasan, tiada perlu kedzoliman untuk menjadi seorang yang berintelektual, tiada perlu kekejaman untuk membentuk karakter terlebih ajang untuk balas dendam. Kelembutan, kesabaran, ketegasan yang tak disertai dengan kekerasan, serta kebaikan adalah hal yang lebih pantas terlebih untuk membentuk karakter generasi bangsa ini.


TAGS 30 Hari Nonstop Ngeblog Seru Jadi Guru IPDN Sherina


-

Author

Follow Me