Belajar Seru Dengan Permainan

19 Aug 2013

Dari jaman nenek moyang kita dulu, permainan sudah menjadi salah satu kegiatan yang acapkali dilakukan. Permainan dapat menimbulkan energi positif yang berujung pada rasa senang. Sehingga, tidak mengherankan apabila anak-anak menjadikan permainan sebagai kegiatan yang ditunggu-tunggu.

Permainan tradisional yang sudah ada turun-temurun memiliki filosopi yang tanpa disadari mengandung pembelajaran hidup penuh arti untuk anak-anak. Pembelajaran logika dan tentu saja pembangunan karakter terselip di antara permainan-permainan tersebut.

Pendidikan di Indonesia yang terlalu kaku membuat pendidik lupa untuk menyelipkan permainan sebagai salah satu metode pembelajaran. Sistem pendidikan yang bermuara pada akademis akhirnya menjadi boomerang bagi pendidik, dan berakibat kurangnya nilai hidup pada anak didik kita. Maka, tak mengherankan apabila kasus tawuran makin marak. Kasus kriminalitas pada anak yang membuat kita mempertanyakan moralitas juga makin meraja di kehidupan kita. Alih-alih, karena terbiasa mendengar kasus-kasus tersebut terpapar di media, kita menjadikan hal itu sesuatu yang biasa. Mudah-mudahan tidak!

Kembali mengulik tentang permainan, tanpa kita sadari, permainan tradisional yang sudah diwariskan nenek moyang kita memiliki limpahan manfaat. Pembelajaran tentang pembangunan karakter terlihat jelas. Sebut saja permainan Cing Benteng (Sunda) atau Bentengan (Jawa), beragam karakter seperti disiplin, rela berkorban, patuh, ulet dan sosialisasi terkandung di dalamnya. Kita sebagai pendidik atau orangtua tak perlu repot mengingatkan anak secara verbal terus-menerus dalam melakukan hal yang berkaitan dengan karakter.

Jika pernah membaca atau mempelajari kecerdasan majemuk (multiple intelegen), dalam permainan, beberapa kecerdasan tersebut dapat digali. Salah satunya yakni kecerdasan interpersonal. Permainan mengajarkan anak-anak untuk berinteraksi dengan teman sepermainan, mereka akan berkonflik dan menyelesaikan konflik tersebut, mereka akan saling beradaptasi dan mengenal karakter masing-masing.

Selain keragaman karakter yang dapat diperoleh, rata-rata permainan dilakukan di luar ruangan. Ini tentu saja, mengajarkan anak untuk berbaur dengan alam. Menyerap energinya yang tak terbatas, mengajarkan sejak dini dalam mencintai alam. Karena permainan dilakukan di luar, anak-anak akan terbiasa dengan kondisi luar yang berbeda suhunya dengan kondisi di dalam rumah. Daya tahan tubuh anak-anak akan tumbuh dan sensor mereka terhadap penyakit juga akan terlatih.

Mengapa Anak Menyukai Permainan?

Kadang, karena paradigma kita yang telah mendarah daging, melakukan permainan adalah hal yang sia-sia dan hanya buang-buang waktu. Baiklah, mari kita simpan paradigma itu

Coba tanyakan kepada anak-anak, mana yang mereka sukai belajar atau bermain? Pasti, mereka akan memilih bermain. Jika ditanya lagi, kenapa bermain? Rata-rata pasti mereka akan menjawab bermain itu buat aku senang.

Bermain itu mampu meningkatkan hormon rasa senang pada tubuh. Saat bermain, tak hanya otak yang diikutsertakan, seluruh tubuh juga ikut berperan. Anak-anak akan merasakan kebebasan yang luar biasa.

Bermain, membuat anak-anak bergerak. Tak ada aturan yang terlalu mengikat sehingga otak tak terkungkung. Bermain juga menyegarkan otak dan mengasyikkan. Di saat bermain, anak-anak bebas mengekspresikan diri tanpa rasa malu. Saat bermain anak-anak bebas menentukan pilihan tanpa ada yang membebani. Meskipun tek dapat dipungkiri, konflik dalam permainan tak dapat terhindarkan.

Karena rasa senang yang mengasyikkan itu, anak-anak mudah menyerap berbagai macam pengetahuan saat bermain. Sehingga penting untuk pendidik menjadikan permainan sebagai salah satu metode dalam memberikan materi kepada siswanya.


TAGS 30 Hari Nonstop Ngeblog


-

Author

Follow Me