Tidak Ada yang Spesial dari Novel Anak Sejuta Bintang
Beberapa minggu ini timeline di twitterland saya membicarakan sebuah novel yang digadang-gadang menginspirasi banyak orang. Kicauan-kicauan yang beredar berasal dari orang-orang yang memiliki kreadibilitas yang baik di dunia tulis menulis. Saya makin penasaran dan tertarik. Lalu seperti biasa setiap akhir pekan saya bertandang ke toko buku, berniat membeli Novel Anak Sejuta Bintang.

Cover Anak Sejuta Bintang
Sampailah saya di toko buku di Botani Square, saya langsung bergegas masuk dan mulai menyusuri rak-rak mencari novel tersebut. Beberapa teman yang saya tanya terkait novel tersebut bilang jika penulis novel tersebut adalah Akmal Nasery Basral dan Khrisna Pabichara sebagai penyunting naskah. Nama yang disebut terakhir adalah orang hebat yang saya kenal. Dua orang hebat membuat sebuah novel, pasti “sesuatu”.
Di sebuah rak dengan tulisan “buku baru” saya akhirnya menemukan novel tersebut. Cover yang cantik dengan seorang anak bersama ibunya membuat saya makin penasaran. Namun penasaran itu mulai sirna tatkala membaca beberapa pakar memuj novel ini. Penasaran itu makin meredup ketika sebuah nama tertera begitu manis di novel tersebut, Aburizal Bakrie.
Meski enggan namun saya tetap membaca novel itu perlahan-lahan. Lima belas menit membaca saya tidak merasakan soul novel, lima belas menit berikutnya saya tidak merasakan ada yang spesial dari cerita di novel ini. Dari puluhan novel atau buku yang saya baca biasanya saya langsung menemukan chemestry, namun membaca novel ini tidak sama sekali.
Saya masih membaca, setidaknya lima belas menit lagi. Namun masih sulit menghadirkan hati. Hati kecil saya menolak meneruskan. Bayang-bayang lumpur Lapindo di Sidoarjo yang merendam belasan desa terngiang-ngiang. Apalagi tiga bulan lalu saya sempat menyaksikan langsung dan sempat merasakan menjadi “pengungsi” di Sidoarjo.
Entah di bab berapa saya menghentikan membaca novel ini. Jujur benar-benar tidak ada yang spesial, cerita di novel tak banyak memberi inspirasi. Tak seperti komentar-komentar yang diberikan para ahli yang terlalu berlebihan memuji. Yang mungkin diapresiasi hanya tulisan dan tata bahasa yang apik.
Untungnya di toko buku itu diperbolehkan membaca buku sampel. Jadi ketika tahu buku tersebut tak terlalu spesial, saya memutuskan tidak membeli. Apalagi dengan harga Rp.63.000,00 rasanya banyak buku yang lebih bagus dan menginspirasi yang bisa saya dapatkan dengan harga tersebut.
Rasanya gembar-gembor novel Anak Sejuta Bintang di twitter bahkan sempat disiarkan secara live di salah stasiun televisi terlalu berlebihan. Masih banyak buku novel yang lebih bagus dan menginspirasi. Jika kaitannya dengan perjuangan seorang ayah novel 9 Summer 10 Autumn (Iwan Setyawan) dan novel Negeri 3 Warna (A. Fuadi) jauh lebih layak dimiliki, karena novel ini tak hanya apik di tulisan dan tata bahasa namun ceritanya yang menggugah dan menginspirasi.
Novel Anak Sejuta Bintang itu seperti sebuah film, dari sinematografi dan penggarapan apik. Namun tidak menjadi begitu spesial karena ceritanya terlalu biasa untuk diangkat. Apalagi ada “kepentingan” terselubung dengan kehadiran novel ini. Mungkin selain dibuat novel, sang penguasa itu akan membuat versi filmnya…. “?”

Buku ini jauh lebih menginspirasi…
Malam makin beranjak, toko buku akan tutup! Novel Anak Sejuta Bintang sudah aku tinggalkan. Saat menuju pintu keluar saya melihat sebuah buku yang tak asing, Wirausaha Muda Mandiri part 2 Rhenald Kasali. Langsung kuambil dan kubaca sekilas, karena chemistry itu langsung hadir. Tanpa berpikir panjang saya langsung ke kasir membeli buku tersebut yang harganya lebih mahal Rp. 7.000,00 dari Novel Anak Sejuta Bintang.



Jujur yah..dari membaca judulnya aja aku gak pengen baca
jadi ini toh…novel yg rame bgt di twitter itu..hehe
eh..eh aku udah lama bgt nih gak komen di blog pak guru ini..hhe
dah berapa taun ya?
[Reply]
Erfano Nalakiano Reply:
Februari 7th, 2012 at 11:14
iya gak ada yang spesial mending baca buku lain yang gak ada kepentingan ya Mel… wah kayaknya nyindir aku gak pernah komentar di blogmu he..he….
[Reply]
Saya tak tertarik malah buat beli novel anak sejuta bintang itu
dan buku yg pak guru pegang itu rasanya boleh tuh untuk dimiliki.
[Reply]
Erfano Nalakiano Reply:
Februari 7th, 2012 at 11:20
betul lebih memikat dan menginspirasi Buka Wirausaha Muda mandiri…kisah 24 pengusaha muda yang memulai dari kerja keras dan kejujuran….
[Reply]
wah, jadi nggak kepengen beli nih pak guru..
Wah sudah berapa abad saya nggak kemari ya?
[Reply]
Erfano Nalakiano Reply:
Februari 7th, 2012 at 11:21
he..he…. beli yang Wirausaha Muda Mandiri kan??? Itu lebih baik…..
[Reply]
boleh saya pinjam om
[Reply]
Erfano Nalakiano Reply:
Februari 7th, 2012 at 11:22
baca gratisan aja di toko buku, boleh kok…. kalau yang Wirausaha Muda Mandiri boleh2…
[Reply]
bagaimana jika dibandingkan dg Buku Bang Namun dan Mpok Geboy?
:))
[Reply]
Erfano Nalakiano Reply:
Februari 7th, 2012 at 11:26
Buku bang Namun dan Mpok geboy itu lebih membumi dan tidak berjarak, ditulis juga oleh penulis yang membumi. Layak untuk dimiliki he..he..
*gak mahal juga….
[Reply]
Justru tulisan ini yang menginspirasi, bukan yang dibahas! Mudah-mudah blogdetik tergerak hatinya dan menjadikan tulisan ini HL… kalau perlu selama setahun hahahaha…. Dan, semoga pak guru menmbuat tulisan lagi yang mengulas novel ini dari kacamata pendidikan. Memang ASB bisa dijadikan acuan mendidik anak seperti yang digembor-gemborkan? Novel kok ngajarin anak nyuap seperti yg tertulis di halaman 346.
“Buat ongkos, Om,” bisiknya sambil memasukkan amplop itu ke saku kanan celana yang dipakai Hasan. “Ingat, Papa dan Mama tidak boleh tahu rencana ini!” (hlm. 346).
[Reply]
Erfano Nalakiano Reply:
Februari 7th, 2012 at 13:11
siip kang WKF…saya rencananya akan mengangkat menjadi 7 tulisan he..he… yang endrosment kalau buku ini cocok untuk pendidik..itu mau kubahas
[Reply]
wongkamfung Reply:
Februari 7th, 2012 at 14:18
+1000
[Reply]
Erfano Nalakiano Reply:
Februari 7th, 2012 at 15:43
he..he…. jadi sesion 7 kayak Cinta Fitri
waw ada buku WMM 2!
mau mau mau >.<
[Reply]
Erfano Nalakiano Reply:
Februari 7th, 2012 at 13:13
bukunya bagus, aku baru baca depannya saja sudah terkagum2 keren deh WMM mah…. Kalau ASB capeek deh…
[Reply]
Wah, Kang Guru kok mirip2 saya waktu jaman SMA dulu ya… NOngkrong di gra***ia cuma buat baca2 gratisan.. hehehe…
Gara2 novel ini, saya jadi rasayanya nggak keren lagi memakai akronim nama saya (Asep Saiful Bahri)… Huh!
[Reply]
asepsaiba Reply:
Februari 7th, 2012 at 12:57
Awas..! Nanti aku mau bikin review-nya juga ah.. *Nyari waktu luang buat ‘nongkrong’ di gr****ia…
[Reply]
Erfano Nalakiano Reply:
Februari 7th, 2012 at 13:14
waduuh..iya ya sama ASB dengan inisial namamu….he..he..
[Reply]
setuju
[Reply]
Erfano Nalakiano Reply:
Februari 7th, 2012 at 13:14
setuju….gak ada yang spesial…
[Reply]
saya malah baru tau ada novel itu
[Reply]
Erfano Nalakiano Reply:
Februari 7th, 2012 at 13:15
he..he… lebih baik gak tahu mbak he..he..
[Reply]
artikel yang menarik mas
[Reply]
Erfano Nalakiano Reply:
Februari 7th, 2012 at 21:15
thanks yaa…..
[Reply]
covernya sih bagus yah, pak. tp emang pas buku ini dibahas di stasiun televisi, rasanya ga tertarik aja gt. hehehe
[Reply]
Erfano Nalakiano Reply:
Februari 7th, 2012 at 22:04
cover bagus tapi tidak dengan isi…. he..he…
[Reply]
tadinya pengen beli pas liat di ulas di salah satu setasiun tv.. tp abis baca tulisan ini jadi males beli..
nice review.. tp kalu ada yg gratis ntar saya mau jg ngintip baca..
[Reply]
Erfano Nalakiano Reply:
Februari 9th, 2012 at 10:59
baca saja mbak di toko buku he..he… Mending beli novel yang kaya pesan moral mbak… ASB terlalu biasa untuk dimiliki.,…
Sudah lama nih mbak baru nongol dirimu!
[Reply]
lebih asyik membaca “berjuta bintang di langit sekolahku :)”
[Reply]
belom baca jadi gak tau spesial apa gak
tapi gak pengen baca sih kalo nyeritain ical
[Reply]
d TLku malah ngga pernah kedenger novel ini
hehe
[Reply]
Pertama kali waktu liat novel ini serasa ada yang aneh, belum tau apa. Lama-lama diliat baru ketauan, kok ada gambar Monas disampulnya? Padahal katanya ceritanya taun 50-an. Emangnya Monas udah ada taun segitu?
Ngintip di Wikipedia ternyata Monas dibangun taun 1961 dan baru kelar taun 1975.
http://id.wikipedia.org/wiki/Monumen_Nasional
Wkwkwkwk… Gemblung, tobat biyuuung…
Yang bikin covernya terlalu liar imajinasinya, yang nerbitin gak tau sejarah.
[Reply]
Aku ga terlalu suka baca Novel sih..
jadi biasa aja..
Malah lebih tertarik baca dan beli buku wirausaha mudan dan mandiri..
[Reply]
buku wira usaha mandirinya boleh juga tuh hehehehe….
[Reply]
padahal aku mau beli tuh novel tapi setelah membaca postingan ini jd ngga kepengen lagi.. makasih mas infonya… salam kenal ya pak guru main-main ke blog saya, saya juga calon guru..hee
[Reply]
kunjungan sob ..
salam sukses selalu ..:)
[Reply]
Sy penjual buku online. Awalnya sy juga agak tertarik utk mengiklankannya di toko saya. Tp begitu tahu itu ttg kisah Abu Rizal Bakrie, niat sy itu langsung kendur dan tdk jadi utk mengiklankannya. Tp kalo ada yg nyari dan mau beli, ttp saja sy akan menyediakannya
[Reply]
terima kasih atas informasinya tentang novel ASB karya bang Akmal. ya, ya. saya bisa mengerti.
[Reply]