4

Ayah…

Posted by Erfano Nalakiano on Jan 24, 2012 in Poesia-Puisi

Jam 2!

Dini hari itu aku gelisah

Tiba-tiba…

Aku terbangun tanpa daya…

Telepon bersuara, sebersit kabar nan jauh di sana tersiar….

Bercampur isak, kepanikan, dan gundah!

Ini khayal, ini khayal…ini hanya mimpi sesat, umpatku!

Kugigit bibir, kucubit tangan… ini bukan khayal. Ini nyata!

Ayahku tiada!

Aku lesu, aku makin tak berdaya…

Lalu ku susun kekuatan demi kekuatan untuk menyaksikan wajah terakhirnya!

Isakku hilang, lesuku lenyap…

Kulihat senyum ini terukir di wajah terakhirnya!

Ayah….

Selamat tinggal…

Terimakasih telah memberikan banyak pembelajaran hidup untukku! :)

  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • TwitThis

Tags:

 
26

E untuk Erfano

Posted by Erfano Nalakiano on Jan 6, 2012 in Glorious

Akhir tahun lalu saya menonton film Hafalan Surat Delisa, salah satu adegan Sofie relawan dari luar negeri memberikan kalung berinisial namanya S. Lalu dengan senyum hangat Delisa berkata, “S untuk Sofie”. Jadi kalung ini milik Kak Sofie.  Nah, di film itu tersiratlah makna senyum sesungguhnya, senyum di saat musibah terjadi! Delisa yang merupakan korban tsunami masih memberikan senyum dan menyebarkan semangat senyumnya di lingkungan sekitar.  Sama seperti saya, sebagai guru saya ingin menyebarkan semangat, senyum di sekeliling saya karena E untuk erfano (gak nyambung)!

E untuk Erfano

E untuk Erfano

Senyum —> Pelepas duka dan penyebar semangat di sekitar

  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • TwitThis

Tags:

 
15

Ayo ke Dufan… Ayo Tonton Musikal Laskar Pelangi

Posted by Erfano Nalakiano on Des 29, 2011 in Exciting Learning

Bagi rapor adalah hal yang saya tunggu-tunggu. Tahu kenapa? Karena setelahnya, saya akan menikmati liburan. Bagi rapor untuk orang tua juga ditunggu-tunggu, namun bukan karena menunggu liburan. Tetapi karena melihat prestasi anaknya selama satu semester.

Pembagian rapor dimulai, sambil berbincang tentang perkembangan anak. Saya bertanya tentang liburan anak-anak.

“Maira liburan ke mana, bu?” tanya saya

“Duh, nggak tahu nih pak mau liburan ke mana….,” jawab ibu Maira.

“Kenapa nggak ke Dufan saja, bu?” ucapku. “Ada Musikal Laskar Pelangi loh…,” lanjutku kemudian.

Ibu Maira mengangguk, “Cukup beli tiket masuk Dufan saja loh, bu. Musikal Laskar Pelangi itu include di tiket dan yang serunya kita tidak perlu membayar lebih kok.” Saya menjelaskan panjang lebar, jika begini saya seperti marketing dari Taman Impain Jaya Ancol he..he…

Beberapa orang tua yang mengambil rapor, pasti saya tanya liburan ke mana. Beberapa sudah memiliki jadwal liburan ke Bali, Lombok dan Bandung. Beberapa lagi belum memiliki jadwal liburan. Ya, sebagai “merketing” Taman Impian Jaya Ancol saya akan menjelaskan jika di Dufan ada Musikal Laskar Pelangi.

Saya sedang berada di depan RamaShinta Hall Dufan

Saya sedang berada di depan RamaShinta Hall Dufan

Berbicara tentang kualitas Musikal Laskar Pelangi tidak perlu diragukan lagi. Novel Laskar Pelangi yang terjual ratusan eksemplar telah memberikan banyak inspirasi termasuk untuk saya. Sukses novelnya, Riri Reza dan Mira Lesmana memboyong cerita di novel menjadi film. Hasilnya pun tak kalah ciamik dengan novelnya, secara kualitas Film Laskar Pelangi termasuk film terbaik. Secara kuantitas jumlah penonton, Film Laskar Pelangi pun membentuk rekor jumlah penonton tertinggi sepanjang sejarah perfilman di Indonesia. Sukses film, Riri Reza, Mira Lesmana, Erwin Gutawa, Jay Subiyakto, Toto Arto dan Hartati bahu membahu menyebarkan virus Laskar Pelangi menjadi tontonan musikal. Sehingga terbentuklah Musikal Laskar Pelangi (MLP)

Saya bersama Riri Reza

Saya bersama Riri Reza

Saya bersama blogger dan Erwin Gutawa

Saya bersama blogger dan Erwin Gutawa

Saya dan cast Musikal Laskar Pelangi

Saya dan cast Musikal Laskar Pelangi

Sukses dua kali waktu tampil di Theater Jakarta dan Esplanade Singapura. Musikal Laskar Pelangi kali ini berkerjasama dengan Dufan untuk menampilkan Musikal Laskar Pelangi Highlight. Kenapa highlight, karena tampil di Dufan durasi yang seharusnya dua jam lebih dipadatkan menjadi satu jam. Namun perlu diingat, meskipun satu jam tak sedikit pun mengurangi inti cerita dan kualitas tontonan.

Selama liburan anak-anak dapat menonton MLP dari tanggal 24 Desember hingga 7 Januari 2012. Hari senin hingga kamis akan terdapat satu pertunjukkan yakni jam 14.00 hingga jam 15.00 sedangkan Sabtu Minggu terdapat dua kali pertunjukkan yakni jam 14.00 hingga jam 15.00 pertunjukan berikutnya jam 16.00 hingga jam 17.00 (fasih ya saya, cocok jadi marketing Dufan he..he..).

Saat saya berkesempatan menonton MLP, rasanya luar biasa senang. Apalagi dua kali saya gagal untuk menonton langsung di Theater Jakarta. Saat saya menonton satu kata yang keluar setiap adegan, “Kereeeen!” Mungkin selama satu jam menonton ratusan kata itu yang saya lontarkan. Sehingga ketika bagi rapor saya tak segan untuk mengajak orang tua murid mengisi liburan anaknya di Dufan.

Kualitas Laskar Pelangi sudah tak perlu diragukan lagi. Sehingga ketika MLP ada di Dufan inilah saatnya untuk menikmati kualitas tersebut. Apalagi untuk mengisi liburan anak-anak. Ayo ke Dufan, ayo nikmati kualitas tontonan Musikal Laskar Pelangi.

*Thanks buat Mbak Ajeng atas tiket dan kesempatannya…. :D

  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • TwitThis

Tags: , , , , ,

 
20

Para Penjual, Trotoar dan Pusat Kuliner

Posted by Erfano Nalakiano on Des 15, 2011 in verdadera historia

Tulisan ini adalah bagian dari rantai cerita grup hitam Blogor (Blogger Bogor). Tulisan saya ini menjadi tulisan keempat setelah tulisan dari pesohor-pesohor Blogor seperti Prof. Sjafri, kang MT dan Kang Chandra . Tulisan saya ini mencoba mengangkat hal-hal yang dianggap tabu menjadi layak dan patut diperbincangkan setajam… Golok! #eh. Di grup hitam ini (meski jujur kulit saya gak hitam-hitam amat), kami bertugas membedah tentang “keburukan” Kota Bogor, sekalian menyampaikan solusi. Syukur-syukur tulisan kami dibaca pak walikota he..he.. (semoga dibaca ya bukan dibajak)!

Ok! Saya mulai!

Sudah enam tahunan saya tinggal di Baranang Siang. Karena Baranang Siang merupakan salah satu daerah pusat kota, banyak aktivitas ekonomi yang dilakukan masyarakatnya. Salah satunya adalah berjualan. Karena hiruk pikuk kota yang dinamis, menjual segala produk terutama makanan pasti membawa keuntungan bagi penjualnya. Apalagi Bogor bukan saja terkenal akan kota hujannya, tapi juga keragaman makanan ciri khasnya.

Sehingga, tak perlu heran ketika trotoar menjadi lahan empuk bagi penjual menaruh gerobak dan barang dagangannya. Awalnya sih para penjual tak terlalu banyak, namun semakin lama trotoar penuh oleh gerobak-gerobak dagangan.

Sepanjang trotoar Jalan Padjajaran contohnya, tumpah ruah gerobak makanan tersedia. Sepanjang gedung Grapari hingga toko buku Gramedia Padjajaran, trotor tak lagi menjadi jalan yang mulus untuk pejalan kaki. Berkali-kali pejalan kaki harus mengalah pada para penjual. Keadaan ini juga berlaku di jalanan sepanjang Terminal Baranang Siang hingga tugu kujang. Di sepanjang jalan Otista pun demikian..

Akibat para penjual yang bertebaran tak beraturan di trotoar, tak ayal lagi mengundang kemacetan. Selain kemacetan, keindahan kota pun semakin berkurang dan terkesan kumuh. Padahal jika pemerintah Kota Bogor peduli keadaan ini dapat diatasi.

Di era sekarang ini, bisnis kuliner memang sangat menjanjikan. Puluhan acara televisi yang mengangkat kenikmatan kuliner Indonesia membuat makanan khas sebuah kota menjadi sasaran utama saat berkunjung. Namun jika keberadaan makanan khas tidak didukung tempat yang layak. Promosi gratis dari acara kuliner menjadi tidak maksimal.

Maka,..

Sudah seharusnya pemerintah Kota Bogor membuat pusat-pusat kuliner di tempat-tempat strategis. Di mana pusat-pusat kuliner tersebut diisi penjual-penjual yang memang berjualan di trotoar. Jadi tidak diisi lagi pembisnis yang memiliki modal tinggi. Sehingga penjual yang minim modal pun punya kesempatan untuk menambah keuntungan. Sehingga kesejahteraan ekonominya meningkat, dengan begitu setidaknya mengurangi tingkat kemiskinan.

Sebelum para penjual tersebut mengisi pusat kuliner tersebut, ada baiknya diberikan pengarahan tentang tata cara berjualan yang baik, pengolahan sampah dan lain-lain. Jika mall-mall sudah tersedia foodcourt, pusat kuliner ini diharapkan lebih lengkap dan harganya lebih terjangkau. Sehingga menjangkau semua kalangan tanpa mengindahkan kualitas dan kebersihan tempat maupun makanan.

Tempat-tempat strategis yang saya maksud bisa di lahan-lahan kosong yang sengaja dibeli pemerintah. Atau di beberapa lapangan-lapangan atau taman-taman di Kota Bogor. Saya cukup salut ketika Damri merombak tempat berjualan menjadi bangunan yang semi permanen. Di sana penjual tertata rapi, namun rasa salut saya lekas hilang ketika kebersihan di sekitar area berjualan tidak terjaga dengan baik.

Mungkin itu sisi hitam Kota Bogor yang saya perbincangkan. Kemudian estafet grup hitam ini akan dilanjutkan oleh mojang Bogor…. Non Dita

  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • TwitThis

Tags: , , , , ,

 
31

Badai Pasti Berlalu #crot

Posted by Erfano Nalakiano on Nop 21, 2011 in Short Story

Ini adalah kisah dari #rantaicerita bertema “crot”. Saya mendapatkan posisi berikutnya untuk menyelesaikan episode keempat setelah episode kocak @wkf2010, episode satir @abahzoer dan episode drama @1bhicara. Awalnya saya ingin membuat episode ini menjadi episode relijius tapi “dendam kusumat” saya pada tokoh Manov membuat saya urung melakukannya. Oh ya, nama saya Erfano Nalakiano masuk dalam episode kali ini. Sengaja sih biar ikutan eksis he..he…

Oh ya kamu bisa baca episode sebelumnya di sini. Di akhir cerita @1bhicara membuat sebuah tanya….

“Ada apa, Mei?” tanya Aning tak dapat menahan diri.

“Kakak kenal cowok ini?” jawab Meilani sambil menghamparkan foto-foto di kasur.

Aning memungut beberapa foto, memandanginya dengan saksama, dan matanya berair. Dia bingung, tak tahu apa yang harus dilakukannya.

Episode 4: Badai Pasti Berlalu

Jiwa Aning masih begitu pekat. Semua baginya sudah terlambat. Foto-foto yang disodorkan Meilani seakan menguak masa lalunya bermil-mil jauhnya.

“Saya harus pergi,” suara Aning terdengar penuh sekat.

“Pergi ke mana? Ke pangkuan laki-laki tak bertanggung jawab itu?” ucap Meilani dengan nada gelisah. “Aku tahu Kak Aning terluka, laki-laki itu pun begitu! Aku tahu kalian sudah saling cinta, namun perlu kakak tahu cinta tak harus memiliki. Kalian berbeda, kak! Kalian tak mungkin menyatu…,” lanjut Meilani, suaranya mulai bergetar.

“Lalu aku harus bagaimana Mei? Menerima ketersiksaan ini berhari-hari hingga bertahun-tahun. Menikah dengan orang yang tak kucinta?” ucap Aning, air mata tak terbendung lagi.

“Kak Aning, hanya laki-laki itu yang dapat menyelamatkan keluarga kita. Kakak mau, hutang ayah tak terbayar? Ayah sakit dan hidup kita berantakan,” ujar Mei seraya menatap jendela. Dilihatnya bunga-bunga kamboja berguguran syahdu. “Aku tahu ini pilihan sulit, kak! Tapi lihat segalanya lebih dekat,” Meilani berbalik dan menatap Aning yang duduk lesu di atas ranjang. “Kakak bukan korban tapi kakak pahlawan,” bisik Meilani.

Aning terdiam. Jutaan penyesalan bergentayangan melewati rongga-rongga di otaknya. Kenapa dia dipertemukan dengan lelaki itu? Kenapa harinya harus disemai benih-benih cinta bersama Manov? Kenapa bukan laki-laki lain…

Meilani mendekati Aning dengan senyum samar. “Kak, saat aku temui Manov dia telah memiliki tambatan hati. Dia bersama wanita lain. Laki-laki tak bertanggung jawab itu begitu mudahnya berpaling darimu,” suara Meilani terdengar lirih namun cukup didengar Aning. Diberikannya sebuah foto Manov bersama wanita lain.

Aning mengambil foto itu dan terperanjat hebat. Ditatapnya wajah Meilani lekat-lekat. Meilani membalasnya dengan anggukan perlahan. Aning bangkit dikoyaknya foto itu lalu dipungutnya foto-foto Manov yang berserakan di kasur. Dirobek-robeklah foto itu, dicacilah foto-foto itu. Dilumatkan foto itu seakan penuh dendam yang tak terelakkan!! “Laki-laki ini…!!” cacinya penuh dengan kekuatan penuh, giginya menggertak hebat.

Meilani yang sadar akan kemarahan Aning meninggalkan kamar. Senyumnya yang tadi samar mulai terlihat jelas saat menutup pintu kamar. Dia berhasil dan setidaknya Aning tak jadi pergi ke Bogor untuk menemui Manov. Cinta mereka berakhir, suara hati Meilani tertawa senang. Dengan begitu aku punya kesempatan, suara hatinya yang lain berbisik.

***

Cinta sejati sepertinya terhubung dengan sinyal-sinyal penuh misteri. Seperti sore itu, entah firasat apa yang membuat Manov seperti orang linglung. Bingung, ia bolak-balik tak berarti di teras rumahnya. Hingga “crot” sapuan hangat burung sore itu kembali menyapa rambutnya. “Astaghfirullah,” ucapnya spontan. Entah apa yang membuatnya insyaf mengucapkan kalimat itu. Biasanya dia akan mengucapkan kata-kata sumpah serapah. Mungkin sebagai makhluk Tuhan sudah saatnya dia bertindak arif. Setelah 37 tahun memeluk agama dia mungkin lupa terakhir memeluk Sang Pencipta. Setidaknya dengan mengucapkan kalimat itu, Manov merasa masih memiliki agama.

“Manov?” suara berat yang tak asing ditelinganya membuat kegusaran Manov berkurang. Manov menatap ke arah suara.

“Hey! Bang Timur…,” ujar Manov seraya menjabat tangan Timur Ginting nama lengkap laki-laki itu. “Wah, tumben-tumbenan abang kemari. Ada apakah gerangan?”

Timur tersenyum, ada sebuah misi yang sudah disiapkan untuk Manov.

***

Pantai Kuta, Bali

Aning menatap deburan ombak Kuta dengan wajah yang tak lagi dirundung duka. Pantai baginya adalah media bertemunya cinta laut dengan daratan. Bagi Aning bukan pantai yang menjadi media menyatunya cintanya dengan Manov, namun media air dan minyak yang menjadi penyatu.

Deburan ombak masih begitu jalang melampiaskan nafsu rindunya pada daratan. Aning telah hilang rasa rindu, hilang daya dan ingatan pada Manov. Cintanya pada laki-laki itu telah punah dan perlahan mulai terganti dengan laki-laki di sampingnya. Laki-laki yang akan menikahinya seminggu lagi.

“Adinda, sedang memikirkan apakah gerangan?” tanya lelaki itu penuh santun. Aning menatap lelaki itu, lalu tersenyum.

“Aku memikirkan kamu,” ucap Aning, ingin rasanya kata “kamu” untuk lelaki itu diganti menjadi kakanda. Namun Aning belum siap, mungkin di malam hening pertama pernikahan mereka. Aning akan memanggil lelaki itu dengan sebutan kakanda seraya menyerahkan mahkotanya.

Aning dan Dicky Prabicara bicara dari hati ke hati

Aning dan Dicky Prabicara bicara dari hati ke hati

“Dicky..sedalam apa cintamu padaku?” tanya Aning tiba-tiba. Lelaki bernama lengkap Dicky Prabicara itu tersenyum simpul. Ditatapnya wajah Aning lekat-lekat.

“Perlu kukatakan sedalam apa? Apakah kau masih ragu?” Dicky Prabicara balik bertanya. Aning terdiam dan mengangguk, baginya lelaki yang ada di dekatnya adalah penyelamat hidupnya. Penyelamat keluarganya. Diakui Aning, Dicky Prabicara adalah lelaki kaya, pemiliki toko roti terkemuka di Bali ini mampu menghidupinya hingga tujuh turunan.

Awalnya Aning sulit menerima kehadiran Dicky, namun setelah melihat foto-foto Manov dengan wanita lain. Aning berpikir bahwa kisah cintanya dengan Manov tak perlu disesali. Sudah saatnya mengambil langkah baru untuk menyelamatkan hidupnya.

Siapa Manov? Setampan apa dia? Sekaya apa? Bahkan dia tak ada apa-apanya dengan Dicky Prabicara yang sekali bicara jutaan rupiah masuk ke rekening. Untuk ukuran wajah Dicky Prabicara tak kalah jauh dengan Erfano Nalakiano, salah satu aktor hebat nan tampan negeri ini.

Menikmati matahari terbenam di Pantai Kuta seperti menikmati kerinduan deburan ombak pada pasir. Aning berdesir, cintanya telah ia mantapkan jatuh pada lelaki di sampingnya. Dari arah kejauhan Meilani menatap dua calon pengantin itu dengan senyuman menang. Akhirnya Aning menemukan penggantinya, gumamanya dalam hati. Dan Meilani siap menaklukkan hati Manov, apapun caranya….

Sebuah perjalanan menuju bandara…

“Aku mau abang bawa ke mana?” suara Manov masih diliputi rasa penasaran pada Timur Ginting.

“Kita akan terbang…melintasi pulau dan menemukan cinta sejatimu!” sambar Timur Ginting. Manov makin terpukau. Lambat laun kegalauan hatinya mulai berkurang.

“Maksud abang?” tanyanya lagi

“Alah, kau akan menemukan cinta lain di salah satu pulau di selatan Sumatera. Kita akan ke sana…” jawab Timur Ginting enteng.

Manov terdiam, dari kaca mobil dilihatnya sebuah poster film di salah satu bioskop XXI di ibukota.

Now Playing at Studio 1 “Badai Pasti Berlalu” starring Erfano Nalakiano, Dian Sastrowardoyo, Wingky Wiryawan, Christine Hakim, Slamet Raharjo.

Erfano Nalakiano dan Dian Sastro dalam Badai Pasti Berlalu

Erfano Nalakiano dan Dian Sastro dalam Badai Pasti Berlalu

Manov bergumam sungguh beruntung Erfano dapat bermain dengan Dian Sastro dan digilai gadis-gadis. Sedangkan aku? Satu gadis yang kucintai pun rela meninggalkanku. Mungkin wajahku yang tak rupawan dan bukan hartawan penyebabnya.

Manov membuyarkan lamunannya. Rasa sakit ini, rasa kecewa ini pasti akan sirna. Ya, seperti judul film itu. Badai pasti akan berlalu…

Mobil itu melaju, berulang kali telepon genggam Manov berdering. Meilani memanggil berkali-kali dan berkali-kali pula Manov tak mengindahkannya. Timur Ginting tersenyum, misi suci sebentar lagi akan terjadi. Manov pasti akan melupakan masa lalunya.

Bersambung ke blognya @rudigint

*Gambar diambil dari cover film Badai Pasti Berlalu dan diedit sesuai dengan konten cerita (mohon ijiinya ya!). Dicover filmnya pemain sesungguhnya adalah Vino. G. Bastian dan Raihaanun

  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • TwitThis

Tags: ,

Copyright © 2009-2012 Seru Jadi Guru All rights reserved.
Desk Mess Mirrored v1.5.1 theme from BuyNowShop.com.