6

Bu Sri

Posted by Erfano Nalakiano on Mei 5, 2012 in verdadera historia

Bus jurusan Rajabasa – Bakauheuni berjalan cukup kencang. Lebih dari setengah bulan aku mudik dan berlebaran di kampung. Lega rasanya ketika bisa menumpahkan kerinduan pada orang tua, adik dan handai taulan. Mataku memandang jauh ke pepohonan pisang di sepanjang jalan. Aku mulai melamun….

Tiba-tiba lamunanku buyar. Telepon genggamku berdering, nomor yang tidak kuketahui. Namun aku tetap mengangkatnya.

“Erfan, ini Erfan kan?” suara dari seberang membuatku menerka-nerka siapakah gerangan, “Ini Husni, Fan” lanjutnya lagi.

Aku hanya bergumam, otakku berpikir keras mengingat temanku yang bernama Husni. “Oo.. Husni,” jawabku ragu. Perlahan otakku mulai mengingat orang yang bernama Husni ini. Dia temanku semasa kuliah di IPB dulu.

“Erfan, kamu masih tinggal di Bogor kan?” tanyanya lagi.

“Iya, emangnya kenapa?” gantian aku yang bertanya

“Erfan, tahu Bu Sri kan? Itu dosen Pemuliaan Tanaman kita?” ucapnya

“Iya, aku beberapa kali ketemu beliau di kampus,” jawabku. “Emangnya kenapa sih?” tanyaku penasaran.

“Iya, Fan.. Bu Sri meninggal dunia tadi pagi. Katanya sakit. Beliau meninggal di rumah sakit di Yogya, Fan,” ujar Husni membuatku terperanjat.

“Innailahi wa innailahi roji’un,” ucapku spontan.

Belasungkawa yang ditulis di grup

Belasungkawa yang ditulis di grup

“Gini, Fan… karena kamu yang masih ada di Bogor jadi kami minta kamu beli karangan bunga untuk dikirimkan ke keluarga beliau. Nanti uangnya dari teman-teman semua. Aku sudah kontak mereka,” jelasnya. Aku terdiam. “Aku minta nomor rekeningmu ya! Sms, ok!” lanjutnya lagi.

Aku mengiyakan, pikiranku masih shock. Pun ketika Husni mengucapkan salam dan menutup pembicaraan di telepon. Aku menjawab lirih. Entah mengapa ada buncahan kesedihan yang bergemuruh di hatiku. Pikiranku melayang ke masa tujuh tahun silam. Masa di mana kami masih diajar dosen kamu, Bu Sri…..

Setelah mengajarkan teori tentang pemuliaan tanaman tomat, kami praktek seperti biasa. Di dalam rumah kasa, kami yang sudah dibentuk kelompok di awal semester mulai melakukan perkawinan bunga tomat. Putik dan benang sari dipertemukan lalu dibungkus dengan plastik. Di sebelah bedengan tomat, ada puluhan pohon stroberi dengan sulur-sulur anakannya.

“Wow….stroberi.”

“Bu, boleh minta nggak bu anakan stroberinya?”

Suara mahasiswa terdengar riuh. Termasuk suaraku juga.

Dengan senyum khasnya Bu Sri mengangguk, “Iya boleh, tapi hati-hati ya! Jangan sampai induknya rusak! Di sana ada sekam dan polybag, kalian boleh mengambil untuk media tanamanya!”

Praktek berikutnya adalah menanam jagung hibrida. Saat panen jagung, satu kelompok bisa mendapatkan hingga tiga karung. Kami semangat memanennya. Bu Sri tersenyum melihat tingkah laku kami.

“Kalian boleh membawa pulang jagung-jagung ini!” ucapnya lembut. Kami bersorak. Beberapa kali kami memilihkan jagung-jagung yang bagus untuk beliau. Bu Sri menolaknya, “Enggak, buat kalian saja!”

Praktek lainnya saat menuju penelitian pepaya milik Bu Sri. Ratusan pohon pepaya dengan buahnya yang berukuran besar ada di hadapan kami. Bu Sri menjelaskan tentang manfaat pepaya dan tata cara pemuliaan tanaman pepaya. Hampir semua pepaya yang berbuah itu terdapat buah yang matang, ada sekitar dua hingga tiga buah dalam satu pohon.

Beberapa mahasiswa bergumam. Menginginkan pepaya.

“Kalian boleh mengambil pepaya yang sudah matang. Tapi jika ada buah yang ada label merahnya jangan diambil. Itu sedang diteliti,” perintahnya membuat kami bersorak. Jadilah setiap mahasiswa bisa membawa dua hingga tingga pepaya. Termasuk aku.

Tak terasa satu semester dilalui bersama Bu Sri. Saat mengisi feedback kepuasan terhadap dosen, kami kompak memberikan nilai A padanya.  Ada beberapa alasan mengapa beliau begitu melekat di hati kami dibandingkan dosen-dosen yang lain.

  • Pertama, cara dia bertutur begitu lembut tanpa mengurangi ketegasannya. Wajahnya yang teduh dan “Jawa” sekali membuat nyaman saat menatapnya.
  • Kedua, cara mengajarnya tidak ribet. Meskipun titelnya berjubel, namun caranya mengajar mudah kami ingat. Biasanya stigma yang muncul semakin pinter seseorang, cara ia menyampaikan ilmunya agak sulit dipahami. Tapi tidak untuk Bu Sri, gelar profesornya menunjukkan kapasitas beliau.
  • Ketiga, sosok keibuannya yang kuat. Mampu menggantikan sosok ibu bagi kami, saat itu 90% mahasiswa adalah orang luar Bogor. Bu Sri mampu menghadirkan sosok pendidik sekaligus sosok ibu bagi kami. Perhatian dan peduli.
  • Keempat, Bu Sri sangat baik. Bukan saja pada kami. Tapi semua mahasiswa yang mengenalnya. Baik yang S2, S1, ataupun D3.  Bahkan pada satpam sekalipun. Pernah aku melihat beliau memberikan bungkusan kue (dari seminar mahasiswa) ke satpam.
  • Kelima, beberapa kali kami bertemu dengan beliau. Meskipun tak mengajar kami lagi, beliau menyapa dan tersenyum sembari menanyakan kabar. Ini membuat kami tersentuh, tak banyak dosen yang mengingat atau setidaknya tersenyum saat bersua.
Gambar dari detiknews.com
Gambar dari detiknews.com

Bagiku, Bu Sri adalah Kartini sesungguhnya. Secara pendidikan beliau sudah tak perlu diragukan lagi. Selain dosen beliau adalah peneliti “papan atas” di IPB. Dalam urusan keluarga, beliau adalah ibu yang sangat-sangat baik. Bahkan bagi kami yang hanya sekedar mahasiswanya. Satu lagi, meskipun Bu Sri adalah dosen dan peneliti hebat namun tetap tampil bersahaja dan bertegur sapa pada semua orang.

Banyak yang sudah beliau berikan untuk negeri ini. Termasuk jenis varietas Pepaya California. Pepaya tersebut adalah hasil karya beliau.

Kenangan akan Bu Sri masih melekat di hati kami. Satu pembelajaran yang tak akan kami lupakan dari beliau adalah setinggi apapun kita berada, tetap tampil sederhana dan membumi.

Bus masih melaju, Pelabuhan Bakauheuni masih 2 jam lagi. Tak terasa mataku berkaca-kaca. Selamat jalan, Bu Sri. Aku yakin Allah pasti memberikan tempat yang layak untukmu…. amiin.

  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • TwitThis

Tags:

 
11

Kembalikan Kejayaan Musik Anak-anak

Posted by Erfano Nalakiano on Apr 30, 2012 in verdadera historia

Salah satu kecerdasan dalam Multiple Intelejensi adalah musikal. Beberapa pembelajaran pun dapat diberikan dengan menggunakan lagu. Biasanya anak-anak akan mudah hafal sesuatu ketika materi tersebut dibuat lagu. Kenapa bisa begitu? Karena lagu dekat dengan keseharian anak-anak dan semua orang pasti pernah melakukannya.

Sekolah tempatku mengajar mengadopsi multiple intelejensi ke dalam tema-tema. Dalam satu tema harus ada kedelapan multipel intelejensi. Misalnya tema tentang keluarga, kecerdasan musikal harus dapat menghadirkan minimal lagu tentang keluarga.

Saya melakoni porfesi guru secara profesional pada tahun 2006. Setiap tahun pasti kami membuat rancangan pembelajaran. Mulai dari menentukan tema hingga menentukan kegiatan. Karena di setiap tema mesti diselipkan lagu, saya kudu mencari lagu yang sesuai dengan tema. Nah, kenyataannya lagu anak-anak semenjak era Tasya benar-benar tak terdengar lagi. Tidak hilang akal, saya mengakali dengan lagu-lagu yang saya dengar di era saya saat masih kecil. Era 90-an….

Lagu anak-anak di era 90-an dimulai dengan lagu-lagu Melissa seperti Semut-semut kecil dan Tukang Bakso, kemudian Bondan menyusul dengan Lumba-lumba, Enno Lerian dan Trio Kwek-kwek juga Dhea Ananda dengan album solo relijiusnya. Lagu dari Maissy menyusul di pertengahan dekade, dilanjut dengan Joshua, Agnes Monica, Cindy Cenora, Saskia dan Geofani. Mereka masih konsisten hingga akhir tahun dekade muncul Sherina yang mengubah paradigma musik anak-anak. Kala itu lagu-lagu Sherina dihadirkan dengan mengusung musik orkestra.

Tak hanya lagu. Era 90-an acara-acara yang berhubungan dengan musik anak-anak juga bermunculan. Acara Ci Luk Baa yang dipandu Maissy selalu ditunggu di setiap weekend. Acara Tralala Trilili yang dipandu Agnes Monica dan Ferry ME juga dinanti-nanti.

Lagu anak di era itu dihadirkan dengan lirik yang simpel, sederhana dan sesuai dengan keseharian anak-anak. Saya ingat benar bagaimana Bondan Prakoso lompat-lompat di kolam sambil menyanyikan lagu Lumba-lumba. Bagaimana tingkah Erwin yang saat bermain bola tersandung dengan lincanya menyanyikan lagu Jempol Kakiku. Atau kocaknya Joshua saat menceritakan air di pantai.

Setiap tahun penyanyi-penyanyi itu rutin mengeluarkan album. Singel-singel yang mereka keluarkan mampu mewarnai hidup kami semasa kecil. Beragam tema pun dimunculkan di singel mereka. Enno Lerian pernah mengeluarkan singel Dudidudidam yang bertemakan makanan. Cindy Cenora mengeluarkan singel Aku Cinta Rupiah sebagai wujud cinta akan Indonesia. Beberapa menyanyikan lagu tentang sekolah, persahabatan dan orang tua. Tak hanya keseharian, di Bulan Ramadhan beberapa penyanyi cilik turut andil mewarnai.

Bahagia, saya menjalankan masa kecil dengan lagu-lagu yang sesuai. Meski saat itu lagu dewasa juga hadir namun sebagai anak-anak kami labih memilih lagu-lagu yang sesuai dengan umur kami.

Memasuki tahun 2000an, Sherina masih menyapa dengan lagu-lagu dari Film Petualangan Sherina. Disusul dengan Tasya dengan album Libur Tlah Tiba dan Natasha yang merecyle lagu Bunda milik Melly Goeslaw. Setelah itu penyanyi anak-anak mulai hilang, meski sebenarnya masih ada namun telah tertutup dominasi lagu-lagu dewasa. Sekitar pertengahan dekade Alika (personil Princess) mengeluarkan album anak-anak yang digarap Alm. Elfa Secoria. Sayang albumnya tidak begitu terdengar gaungnya meskipun sempat memenangkan penghargaan di Anugerah Musik Indonesia.

Semenjak itu lagu-lagu anak-anak nyaris tak terdengar. Sebagi guru saya miris melihat murid-murid saya menyanyikan lagu anak-anak. Biasanya kami (saya dan murid) saling mengingatkan jika ada yang menyanyikan lagu dewasa.  Melarang dengan keras pun rasanya tidak tega mengingat lagu yang harusnya ada untuk mereka nihil di peredaran musik Indonesia.

Saat kontes Idola Cilik digelar saya menaruh banyak harap. Namun harapan itu mulai terkikis tatkla lagu-lagu yang kontestan nyanyikan sebagian besar adalah lagu orang dewasa. Meskipun harapan itu muncul ketika kontes idola cilik mengeluarkan album tapi sekali lagi gaungnya harus tergusur album-album dewasa.

Musik anak-anak kembali menuai celah ketika Umay mengeluarkan album. Lagu-lagu seperti Menanam Jagung, Jagoan cukup familiar di telainga murid-muridku. Apalagi album Umay diedarkan di gerai ayam goreng kesukaan anak-anak. Sekarang ini beberapa penyanyi anak-anak juga bermunculan seperti Trio 3C dan Lolipop. Meskipun jika ditilik perkembangan ini belumlah memuaskan. Terlebih jika dibandingkan dengan album-album penyanyi dewasa.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan agar musik Indonesia kembali berkembang. Pertama para musisi dewasa memproduseri penyanyi-penyanyi cilik untuk membuat singel. Tak hanya memproduseri namun membuatkan lagu untuk mereka juga. Lagu-lagu yang diciptakan dan dinyanyikan itu dapat berkerjasama dengan sekolah-sekolah untuk dipromosikan.

Kedua stasiun televisi perlu menggalakkan acara musik anak-anak yang diisi oleh penyanyi-penyanyi cilik dan dipandu juga oleh anak-anak. Acara musik ini bisa ditaruh di saat weekend.

Ketiga, untuk guru dan profesi-profesi yang berhubungan dengan pendidikan dan dunia anak-anak. Perlu memperkenalkan lagu anak-anak dalam setiap pembelajaran atau kegiatan lain. Sehingga dominasi lagu orang dewasa dapat berkurang.

Keempat untuk orang tua. Ada baiknya memperkenalkan lebih jauh tentang lagu anak-anak. Membeli album/download secara legal juga mengajak anak-anak untuk menonton acara-acara/drama musikal anak-anak.

Kelima untuk sineas, membuat film bertemkan anak-anak dan diisi dengan soundtrack anak-anak pula. Seperti film produksi Mizan Production yang kebanyakan bertema anak-anak. Salah satu film bertajuk Ambilkan Bulan, Bu menjadi jalan untuk mengembalikan musik anak-anak ke kodrat aslinya.

Kita patut prihatin dengan perkembangan musik anak-anak sekarang ini. Namun membiarkan keprihatinan ini dan tidak berbuat apa-apa juga tak baik. Sebagai guru saya pasti menyelipkan setiap lagu di tema. Lagu-lagu yang diambil pun lagu-lagu yang beredar di tahun 90-an. Yang untungnya ada di masa kecil saya.

Generasi bangsa itu tidak dimulai saat dia dewasa. Tapi generasi bangsa ini dimulai dari masa kanak-kanak. Musik dapat mempengaruhi masa kanak-kanak, dengan mengambalikan musik anak-anak ke kodrat aslinya. Pasti akan membuat generasi bangsa ini lebih baik. Yuuk, kita kembalikan kejayaan musik anak-anak!

  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • TwitThis

Tags: , , , , , , , ,

 
8

~Rindu~

Posted by Erfano Nalakiano on Apr 26, 2012 in Short Story

Ini adalah tulisan kedua dari Rantai Cerita #3Penguasa Grup 14. Tulisan awal dapat dibaca di @1bichara…..

Rindu…..* (Erfano Nalakiano)

Selama aku mencari
Selama aku menanti
Bayang-bayangmu dibatas senja
Matahari membakar rinduku
Ku melayang terbang tinggi

Aku bertahan di sini, Togu. Aku tahu kau tak akan pernah muncul setelah peristiwa itu. Namun aku akan tetap berusaha, mencari bayanganmu pada pepohonan nyiur, pada ombak yang berdebur dan pasir yang berbisik jujur.

Senja ini, aku masih berharap kau menemuiku. Ingat, Togu..sampai kapanpun aku akan menunggumu. Kapan pun. Bahkan ketika senja menemui ajalnya sekalipun.

Kau tahu, Togu! Mungkin rindu ini kau anggap kadaluarsa. Mungkin juga bagimu rindu ini sangat tak layak dan biasa. Namun apapun itu, aku masih menyimpan genggaman rindu ini dengan ribuan rasa. Dunia boleh tertawa, mencaci dan membuat semangatku patah. Asal rindu ini tak kau bantah.

Tuk slalu mega-mega
menembus dinding waktu
Ku terbaring dan pejamkan mata
Dalam hati kupan
ggil namamu
Semoga saja kau dengar dan merasakan

Jika boleh aku memutar kembali waktu. Tak perlulah ada caci yang terpatri dari ayahku. Tak perlu ada luka yang kau tanam dengan haru. Hingga kau benar-benar sirna dari hingar bingar kehidupanku. Togu, jika ada mesin waktu dan aku kembali ke masa lalu. Aku rela pergi menjauh asal itu bersamamu.

Senja menghilang satu-satu, aku baringkan khayal yang membuntut palsu. Ijinkan aku untuk menghadirkan siluetmu, Togu. Melepaskan rindu ini satu persatu. Kemudian mataku terpejam. Kurasakan desah suaramu yang begitu tentram. Aku berbisik memanggil. Terus memanggil hingga tubuhku lunglai menggigil.  Pada bagian belah bumi yang penuh teka-teki. Kau pasti merasakan rinduku tanpa maki. Togu…. Kau dengar aku?

Getaran dihatiku
Yang lama haus akan belaianmu
Seperti saat dulu
Saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini
Dan kau bisaikan kata-kata ku cinta padamu


Dulu, kita berbincang cinta di Danau Makalehi. Hasrat cinta yang tenang namun penuh gejolak birahi. Kau membelaiku dengan hasrat yang tak menggebu. Kau dekap tubuhku dengan tebaran sayang yang tak tabu. Kau kecup bibirku dengan hasrat penuh deru debu. Ini bahkan melebihi candu shabu-shabu. Aku menginginkannya lagi, kau pun begitu Togu?

Namun kini, aku tak menemuimu bahkan bayangmu. Ke mana kau melangkah, Togu? Kemana? Mungkinkah kau benar-benar melupakanku? Atau di belahan bumi yang aku tak tahu, engkau telah bersama perempuan lain? Membelainya, mendekapnya dan mengecup dengan hasrat yang lebih tenang dan tak menggebu. Jawab pertanyaanku Togu? Aku mulai ragu…

Peluhku berjatuhan
Menikmati sentuhan
Perasaan yang teramat dalam
Telah kau bawa segala yang kupunya
Segala yang kupunya
…..

Aku berlari getir . Gua Tengkorak ini menjadi persinggahan terakhir. Aku tak tahu lagi setelah dari Pulau Makalehi ini, apakah aku akan kembali? Mungkin tidak…

Tengkorak di gua ini tersusun rapi. Ada tujuh tengkorak terlihat menepi. Konon di waktu- waktu tertentu muncul satu tengkorak yang ukurannya raksasa.

Kelak Togu, saat kau kembali ke pulau ini. Kau akan tahu bahwa cinta ini masih utuh, rindu ini tetap menggebu. Aku sudah memberikan segalanya padamu. Pun ketika ragaku harus terpisah dengan ruhku. Kuberikan itu seutuhnya padamu. Dan saat kau berkunjung ke gua ini, akan ada 8 tengkorak. Salah satunya dariku….

Bersambung….

Lanjut di blognya celoteh saya ya!

*Lagu Rindu ciptaan Eros Djarot, dinyanyikan kembali oleh Agnes Monica

  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • TwitThis

Tags: , , , ,

 
11

Senja…

Posted by Erfano Nalakiano on Apr 24, 2012 in Poesia-Puisi
Senja

Senja

Senja….

Aku menemuimu tergesa-gesa

Sungkan kucoba tatap matamu

Ada luka ada duka ada kalut

Tak kau sendiri semesta pun turut

Berairmata….

Senja….

Barangkali ini terlalu terburu-buru

Tak ada prasangka pun tak ada yang menyangka

Jika sang matahari berlalu

Meninggalkan hening dan selaksa rasa

Senja…..

Mereka meragukan dayamu

Mereka menganggap kau tak dapat tegap berdiri setelah matahari berlalu

Kutatap matamu

Dulu…

Saat kau tak sesenja ini kau adalah api yang menyala-nyala di hati kami

Kau yang tak hanya mendidik kami

Kau juga mencari energi yang menghidupi raga kami

Bahkan saat matahari terbenam sesaat

Kau mengantikannya tanpa penat

Senja….

Bagiku, perjuanganmu dalam menerjang hidup tak kalah

Tak kalah dari Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika

Kau mampu….

Melebihi yang mereka tahu

Senja…

Ketika matahari itu benar-benar tak nampak lagi

Tunjukkan semangat itu seperti semula

Tunjukkan kuatmu seperti baja

Tunjukkan, bahwa kau bukan senja lemah yang mereka pikirkan

Kau senja yang telah bermetamorphosis menjadi matahari.


*Untuk ibuku…. Menjelang 100 hari wafatnya ayah! Bagiku kau tak sekedar Kartini namun senja dengan matahari yang menyala di hati kami J

  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • TwitThis

Tags:

 
11

The Geography Of Bliss: Perjalanan Mencari Negara Paling Membahagiakan

Posted by Erfano Nalakiano on Apr 23, 2012 in Exciting Learning
Diterbitkan oleh Penerbit Qonita (PT. Mizan Pustaka)

Diterbitkan oleh Penerbit Qonita (PT. Mizan Pustaka)

Walau makan susah
Walau hidup susah
Walau ‘tuk senyumpun susah
Rasa syukur ini karena bersamamu juga susah dilupakan
Oh ku bahagia
Oh ku bahagia

(Sherina OST-Laskar Pelangi)

Sepanjang perjalanan menuju sekolah saya asik dengan lagu dan earphone. Sudah jadi kebiasaan saya mendengarkan musik saat memulai pagi. Lagu yang dipilih pun biasanya berirama ngebeat dan memiliki lirik membangun. Termasuk lagu Sherina yang bertajuk Kubahagia.

Bahagia? Tiba-tiba saya teringat kembali buku tentang perjalanan mencari makna kebahagiaan. Buku yang baru saya baca beberapa bagian masih setia berada di tas. Biasanya saya baca di saat senggang atau menunggu sesuatu.

Saya mengambil buku itu sembari menunggu datangnya angkot. Belum sempat saya membuka buku, angkot yang saya tunggu datang. Masuklah saya ke angkot lalu duduk manis dan merasakan petualangan mencari makna kebahagiaan…

Adalah Eric Weiner yang berprofesi sebagai koresponden asing untuk National Public Radio (NPR). Tak merasa bahagia akan hidupnya membuat Weiner merasa perlu melakukan misi. Sebuah misi yang kebanyakan orang menganggap itu sesuatu yang bodoh. Misi utama yakni mencari makna sebuah kebahagiaan. Mencari negara yang paling membahagiakan…..

Petualangan itu dimulai dari Negara Belanda. Weiner menuturkan kebahagiaan terbesar di negeri Kincir Angin adalah angka. Bagi beberapa peneliti yang ditemui kebahagiaan ibarat sebuah angka-angka dalam data statistik. Saya heran. Namun kita tak melulu dibeberkan tentang kebahagiaan, namun fakta-fakta kebebasan yang terlampau bebas (setidaknya untuk orang timur). Di mana mariyuana adalah legal, prostitusi pun legal, akan tetapi di tengah kebebasan itu toleransi amatlah kental. Meski akhirnya toleransi itu berakhir pada ketidak pedulian.

Buku saya tutup, angkot yang saya tumpangi sebentar lagi akan sampai di sekolah. Karena masih terlampau pagi, sembari menunggu murid-murid datang ke kelas saya kembali melanjutkan buku ini….

Perjalanan Weiner dilanjutkan ke Swiss. Cukup kaget saya ketika makna kebahagiaan di Swiss adalah kebosanan. Tetapi saya segera memahami maksudnya dari perjalanan Weiner. Selain itu, banyak fakta yang diungkap dari perjalanan di Swiss, bayangkan saja sebuah peraturan di sana yakni menyiram toilet setelah jam 10 malam atau memotong rumput pada hari Minggu adalah ilegal, tetapi bunuh diri sangat legal. Wow!

Ada 10 negara yang dijadikan tempat pencarian kebahagiaan oleh Weiner. Selain Belanda dan Swiss. Ada Bhutan, Qatar, Islandia, Moldova, Thailand, Britania Raya, India dan Amerika. Masing-masing negara yang ia kunjungi memiliki makna yang berbeda-beda. Cukup geli saya ketika kebahagiaan di Thailand adalah tidak berpikir.

Setiap negara yang memiliki makna berbeda akan kebahagiaan setidaknya menggambarkan betapa kebahagiaan itu tak sama. Terlalu relatif setiap individu menilainya. Bagaimana bisa masuk dalam logika berpikir, ketika makna kebahagiaan adalah kegagalan? Di Indonesia kebahagiaan bertolak belakang pada kegagalan. Banyak orang menilai bahwa kebahagiaan adalah kesuksesan, kaya, memiliki harta yang melimpah.

Buku yang memiliki tebal 512 halaman ini mengajak kita tidak saja merenung dan menafsirkan sebuah kebahagiaan. Namun merasakan sensasi kota-kota yang dikunjungi. Merasakan sisi lain sebuah tempat yang memang belum pernah dikunjungi, jika pun pernah tak akan serinci ini. Eric Weiner mampu menghadirkan sisi lain itu di buku ini. Beberapa pendapat filsuf tentang kebahagiaan pun diselipkan. Riset-riset terkait kebahagiaan pun dihadirkan membuat cakrawala dan wawasan kita menjadi luas.

Banyak Makna yang Terkandung di Buku ini

Banyak Makna yang Terkandung di Buku ini

Ada beberapa penemuan yang dituliskan di buku yang masih terngiang di kepala saya…

Mereka yang bersifat ekstrover lebih bahagia daripada yang bersifat introver. Mereka yang optimistis lebih bahagia daripada yang pesimistis. Mereka yang menikah lebih bahagia daripada yang bujangan. (hal: 35-36).

Tujuan orang melakukan sesuatu pastinya mencari kebahagiaan. Meskipun makna bahagia itu berbeda satu sama lain. Kebahagiaan terbesar bagi saya ketika dapat bermanfaat lebih untuk orang lain. Membaca buku ini membuat saya makin paham kebiasaan orang luar dan tingkah laku mereka. Setidaknya untuk bekal kalau suatu saat nanti saya akan mencari makna lain tentang kehidupan di luar negeri.

Murid-murid saya mulai berdatangan. Buku saya tutup. Menyambut murid-murid dengan senyuman tulus dan mendengar celoteh mereka adalah kebahagiaan yang tiada tara. Dalam hati saya bergumam, “Semoga kelak kalian menjadi jiwa-jiwa yang bahagia. Jiwa-jiwa yang menghargai alam dan bermanfaat bagi semesta.”

  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • TwitThis

Tags: , , , , ,

Copyright © 2009-2012 Seru Jadi Guru All rights reserved.
Desk Mess Mirrored v1.5.1 theme from BuyNowShop.com.