Anak-anak pun Belajar Dari Kesalahan Untuk Berekspresi dan Mandiri
Diposting oleh: Erfano Nalakiano pada RectoVerso, tags: Senandung Cinta dari Rumah kayu

1st
Di kelas ada 24 anak-anakku memiliki karakter yang berbeda-beda. Jika freeplay tiba-tiba, anak-anak yang cenderung kinestetik akan bermain di luar. Sebagian lagi memilih di kelas mengambil buku di perpustakaan kelas dan membaca. Sebagian lagi pergi ke perpustakaan sekolah. Sebagian anak-anak bermain kumbang atau mencari belalang!
Di saat bermain, sebagai guru kadang aku ikut nimbrung. Niatnya tak hanya bersenang-senang dengan anak, namun turut mengawasi juga. Apalagi jika anak-anak bermain di area panjat-memanjat. Rasa khawatir ada namun biarkan anak-anak belajar melakukan. Biarkan mereka berekspresi tanpa ada kata “Jangan atau Awass!”. Biarkan mereka melakukan dengan bebas.
Terjatuh dari tangga atau terpeleset adalah hal yang beberapa kali terjadi. Sebagai guru tindakan selanjutnya adalah membawa ke kelas dan mengobati jika ada luka. Lalu membolehkan mereka untuk istirahat dan tak ada kata “Besok jangan bermain di situ lagi!” Anak-anak akan mengerti dan pasti belajar dari apa yang telah mereka lakukan. Esoknya mereka pun akan tahu dan belajar banyak dari apa yang telah mereka alami sebelumnya.
***
2nd
Karakter anak-anak terbentuk dari lingkungan dan bagaimana orang tua mereka mengajari. Anak-anak yang manja terbentuk dari keluarga yang meluluskan segala keinginan anak-anak. Sedangkan anak-anak mandiri terbentuk dari keluarga yang bisa membedakan mana keinginan dan kebutuhan anak mereka.
Terus terang sekolahku didominasi oleh kalangan atas. Namun di kelas anak-anak diajarkan untuk melakukan segala kegiatan dengan mandiri. Merapikan sendal sendiri, merapikan mukena dan sajadah sendiri, bahkan mencuci piring usai makan siang. Pembiasaan itu membuat anak-anak terbiasa hingga terbawa ke rumah. Meskipun masih ada yang minta dibantu oleh mbak/bibinya.
***
Membaca Senandung Cinta Dari Rumah Kayu rasanya tak berhenti berdecak kagum. Banyak sekali pembelajaran cinta dan pendidikan yang dapat diraih! Yang paling kusuka tentu saja Biarkan Mereka Melakukan Kesalahan (hal 45 ). Di sini berceritalah Kuti dan Dee bagaimana membuat anak-anak bisa mandiri dan bebas berekspresi.
Sebagai guru aku sangat mendukung tulisan ini. Anak-anak juga memiliki masalah dan biarkan mereka menemukan solusi dari masalah mereka sendiri. Tanpa ikut campur orang dewasa. Jika pun ikut andil cukup mengarahkan dan mengawasi. Selebihnya biarkan anak-anak melakukan yang mereka mau tanpa ada pelarangan yang membebani.
Soal mandiri! Tentu saja orang tua berperan besar dari hal ini. Jika pendidik dan orang tua berkerja sama dengan baik niscaya karakter anak akan terbentuk dengan baik pula!
Mendidik anak tentu saja bukan peran orang tua dan guru semata. Namun peran kita bersama termasuk sineas, musisi, produser acara tv, politikus, blogger hingga penulis. Duet Kuti dan Dee telah memberikan nilai pendidikan itu….. Selamat!







Isi (RSS)